Muda, bekerja di tempat yang ‘basah’, kaya, memiliki gelar akademik yang banyak, dan sukses, itulah kesan saya saat melihat seorang teman lama dalam acara halal bi halal pasca Ramadhan yang lalu. Saat berbincang dengannya, saya dan teman-teman menyatakan dengan bahasa normatif, “Selamat ya, tampaknya Anda sudah sukses!”. Tapi, kami terkejut ketika dia menjawab, “Itu penilaian Anda, bagi saya kesuksesan masih jauh karena tujuan besar saya adalah mendirikan yayasan yang concern membantu anak jalanan, dan itu belum berhasil saya wujudkan”.
Dari situ kami membuat kesimpulan, bahwa kesuksesan seseorang ukurannya berbeda-beda. Sukses menurut penilaian orang lain, belum tentu menurut orang yang dinilai. Bahkan, bisa jadi seseorang tidak bisa mendefinisikan kesuksesan dirinya sendiri karena dia tidak memiliki tolok ukur sukses karena tidak mempunyai tujuan atau cita-cita yang jelas. Dari peristiwa pertemuan saya dan teman tadi, dia dengan jelas mendefinisikan kesuksesan bagi dirinya bila sudah bisa memberikan manfaat bagi orang lain dengan membantu anak jalanan melalui yayasan yang dia cita-citakan.
Saudaraku Mitraniaga, dalam menjalani kehidupan ini sudah banyak pencapaian yang kita raih. Atas berbagai pencapaian itu tentu rasa syukur harus selalu disertakan. Namun sebagai manusia yang cenderung memiliki nafsu sering kita menjumpai rasa tidak puas terhadap pencapaian tadi. Bila rasa tidak puas itu dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi, tentu merupakan hal yang baik. Namun, bila rasa tidak puas itu dilandasi oleh nafsu keserakahan untuk meraih materi sebanyak-banyaknya, itu adalah bentuk penghambaan terhadap nafsu yang harus dihindari.
Kesuksesan terbesar bagi seorang muslim, adalah ketika dia dipanggil Allah dalam keadaan husnul khotimah dan beriman kepada Allah. Kondisi itu bisa jadi tidak berdiri sendiri. Untuk mencapai husnul khotimah tidak terlepas dari amal shaleh yang diperbuat selama hidup di dunia. Amal shaleh di dunia tentu termasuk di dalamnya hubungan antar manusia. Jadi, ketika keberadaan seseorang lebih banyak bermanfaat bagi orang lain itu adalah bagian dari amal shaleh. Insya Allah ini salah satu yang akan mengantarkan kita ke gerbang husnul khotimah.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita saat ini sudah sukses? Jangan-jangan kita termasuk orang yang tidak mempunyai tolok ukur dan cita-cita yang jelas sehingga merasa tidak kunjung mencapai kesuksesan? Kalau itu masalahnya, maka pastikan dengan jelas apa sebenarnya tujuan dan cita-cita Anda di dunia untuk mendukung pencapaian husnul khotimah. Sebuah perjalanan akan sukses mencapai tujuan akhir, bila target tujuan dan tempatnya jelas. Ibarat seseorang yang naik taksi, bila tidak memiliki tujuan pasti, maka sejauh mungkin berkeliling tidak akan pernah sukses mencapai tujuan walaupun disertai kemampuan membayar argo yang banyak.
Saudaraku Mitraniaga, mendefinisikan tujuan dan cita-cita dengan jelas selain memotivasi kita untuk mencapainya juga agar kita lebih mudah membuat langkah-langkah teknis untuk mencapainya. Jadi, yuk tetapkan dengan jelas tujuan kita agar sukses menurut orang lain sukses juga menurut kita.
(HRM)
Diposting oleh nidzom Rabu, 12 Oktober 2011 03:10:54 Rubrik : Artikel MLM - dibaca : 153 Kali