Salah besar kalau ada anggapan bahwa ummat Islam itu identik dengan keterbelakangan pendidikan, kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa pesatnya perkembangan Islam diprakarsai oleh Rasulullah Muhammad SAW bersama para pemimpin sekaligus sahabat rasulullah yang cerdas, dan kaya raya. Kalau penampilan para sahabat

nabi terlihat begitu sederhana bukan berarti mereka yang mulia ini miskin, tapi lebih pada pilihan kerendahan hati mereka. Kekayaan nabi dan para sahabat yang begitu besar ternyata lebih banyak digunakan untuk membantu perjuangan mensyiarkan Islam dan membantu sesama muslim. Kalau pun pada kenyataan saat ini sebagian ummat Islam terlihat terbelakang secara pendidikan, lemah secara ekonomi itu berarti ada penerapan yang salah, karena Islam anti kebodohan dan anti kemiskinan
Sejarah pula yang telah mencatat bahwa perjuangan Islam tidak saja membutuhkan semangat yang menggelora, tapi dibutuhkan modal keimanan dan tauhid yang mendalam, dan tidak kalah penting modal harta benda. Karena itu bagi seorang muslim memiliki harta sebanyak-banyak sangat dianjurkan, tapi Islam mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan itu bukanlah tujuan, tapi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Dan telah menjadi sebuah kenyataan bahwa perjuangan tidak akan berjalan dengan optimal tanpa dibarengi dengan ketersediaan harta benda.
Rasulullah selain dengan harta beliau sendiri ditambah dengan harta ummul mukminin Khadijah menyumbangkan harta untuk perjuangan kaum muslimin. Khalifah Abu Bakar hampir seratus persen menyumbangkan harta kekayaan untuk Islam, Amirul mukminin Umar bin Khattab dengan perjuangan Islam berkontribusi lima puluh persen dari harta kekayaannya, dan yang paling melegenda sahabat nabi paling kaya Abdurrahman bin Auf tidak pernah berhenti bersedekah dengan hartanya untuk Islam sampai ajal menjemputnya. Justru dengan harta bendanya inilah beliau menjadi salah satu sahabat yang dijamin rasulullah masuk surga. Pendek kata, semua perjuangan Islam dari dulu hingga sekarang tidak pernah lepas dari dukungan materi. Karena itu mengumpulkan harta benda untuk tercapainya sebuah perjuangan menjadi wajib hukumnya.
Saudaraku mitraniaga, ternyata semua harta benda para sahabat yang memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan Islam itu didapat dari hasil perniagaan atau wirausaha. Jadi, bila saat ini Anda sudah merintis wirausaha termasuk dengan menjadi mitraniaga AHAD-NET itu artinya Anda sudah berada pada jalur yang tepat dan sesuai dengan sunnah rasul. Dengan berwirausaha potensi penghasilan tanpa batas terbuka luas. Penghasilan itulah yang akan kita belanjakan di jalan Allah, memberi nafkah keluarga, menyantuni sesama muslim, bahkan membangun fasilitas yang bermanfaat bagi banyak orang.
Semangat berwirausaha inilah yang dibangkitkan oleh Bapak Valentino Dinsi motivator nasional sekaligus penulis buku best seller ‘Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi Orang Gajian’ pada Silaturrahim Akbar (Silakbar) pada tanggal 2 Oktober 2011 di Gedung Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Jakarta. Mantan manajer termuda dan tercepat PT Garuda Indonesia ini memberikan contoh sahabat Abdurrahman bin Auf yang sukses dalam wirausaha sehingga menjadi sahabat rasulullah yang paling kaya dan dengan leluasa berkontribusi dengan harta benda bahkan nyawanya untuk Islam. Dengan memberikan berbagai rahasia tips dan trik berwirausaha sukses ala Abdurrahman bin Auf, Valentino Dinsi berhasil memotivasi ratusan peserta Silakbar untuk berwirausaha sekaligus optimis dalam menggapai semua impian.
Beberapa ilustrasi dan beberapa contoh pengusaha sukses yang telah menggapai impian dengan diawali menuliskan cita-cita dan keinginannya pada sebuah buku, Valentino Dinsi seakan menghipnotis dan mendorong para peserta untuk segera memperjelas berbagai keinginan dan cita-cita mereka. Dalam suasana penuh semangat dan motivasional itu tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Di akhir motivasinya mantan komisaris berbagai perusahaan swasta ini mengajak para peserta silakbar yang juga para mitraniaga ini untuk segera menuliskan berbagai keinginan, harapan dan cita-citanya. Mau insentif sejumlah berapa, berperingkat ke jenjang mana, mengembangkan jaringan seberapa banyak dan memiliki omzet berapa. Lalu menetapkan target waktu pencapaiannya. Dengan demikian mitraniaga telah mendekati jalan menuju apa yang mereka inginkan. (HRM)