Puluhan tahun silam para pemuda Surabaya dengan gagahnya mempertahankan dan mengusir tentara Inggris dari Surabaya. Sebagai penghargaan sejarah, perlawanan legendaris para pemuda Surabaya tanggal 10 November 1945 itu, kini setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Saat ini kita tidak harus dan tidak perlu melakukan perjuangan fisik seperti itu lagi, karena Indonesia telah merdeka dari segala bentuk penjajahan fisik. Tapi, semangat kepahlawanan para pejuang yang tidak kenal menyerah, tidak kenal henti, ngotot dalam mencapai apa yang dicita-citakan tetap dan selalu kita perlukan. Pahlawan selama ini kita konotasikan dengan para pejuang yang berjasa dalam merebut kemerdekaan, pengertian itu benar. Tapi lebih luas dari itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan memiliki makna orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Tersirat makna di dalamnya bahwa seorang pahlawan adalah mereka yang memiliki kerelaan, tidak memiliki pamrih dan bekerja semata untuk kepentingan dan kemanfaatan bagi orang banyak. Jadi, dengan sendirinya kita semua punya potensi dan memiliki jiwa kepahlawanan jika selalu berpihak pada kebenaran dan selalu berkarya agar bermanfaat bagi orang banyak. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak bermanfaat (baca: memiliki jiwa kepahlawanan) bagi orang lain?
Cara mudah merefleksikan jiwa kepahlawanan kita saat ini adalah dengan melakukan aktivitas yang bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Pejabat pemerintah yang mengemban amanah dan bekerja sesuai jalur demi kebaikan semua rakyatnya adalah pahlawan. Orang tua yang bekerja mencari nafkah bagi keluarga dan anak-anaknya tanpa pamrih adalah pahlawan. Mitraniaga yang bekerja membantu membina mitramudanya agar terbentuk jaringan yang kuat adalah pahlawan. Bahkan seorang anak yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya yang sudah renta adalah pahlawan. Kita semua adalah pahlawan selama bekerja dengan ikhlas, tidak mengharapkan pamrih dan semata berorientasi pada kebaikan bersama.
Perlu ditanamkan dalam diri, seorang pahlawan tidak pernah berhenti berjuang. Semangat pahlawan tidak pernah mengenal putus asa sampai tujuannya tercapai. Seorang pahlawan tidak pernah mengeluh atas berbagai tantangan yang dihadapi. Dan seorang pahlawan tidak pernah berharap mendapat gelar dan sebutan pahlawan.
Dalam momentum akhir tahun hijriyah ini, sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru Islam, saatnya kita menghisab diri. Sudahkah kita memiliki jiwa kepahlawanan? Sudahkan kita bermanfaat untuk orang lain? Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawab.
Namun satu yang pasti, dalam profesi kita masing-masing, kita semua punya hak dan memiliki kewajiban yang sama untuk berbuat dan memberikan yang terbaik. Seorang karyawan berhak dan wajib berkarya dengan karya terbaik, sebaliknya seorang pemilik perusahaan atau atasan berhak sekaligus wajib memberikan penghargaan terbaik atas sebuah karya bawahannya. Seorang mitraniaga berhak dan wajib melakukan yang terbaik agar jaringannya berkembang pesat, sehingga kelak dia berhak dan wajib mendapatkan hasil terbaiknya.
Wahai Mitraniaga AHAD-NET, mari bersama kita menunjukkan karya, aktivitas, bahkan pengorbanan terbaik kita. Mari kita munculkan potensi kepahlawanan kita dengan selalu optimis, selalu ngotot mengejar cita-cita, selalu kuat dalam menghadapi tantangan, selalu istiqomah di medan perjuangan dan tidak pernah mengenal kata henti sebelum mencapai tujuan, karena kita adalah pahlawan.
(HRM)
Diposting oleh nidzom Sabtu, 19 November 2011 03:11:02 Rubrik : Artikel Umum - dibaca : 124 Kali
tag : hari pahlawan, 10 november
BERITA TERKAIT
INPUT KOMENTAR
AYAT QURAN
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(Al Fatihah - Ayat 3)
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal
mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
(Al Baqarah - Ayat 9)
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat
kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(Al Baqarah - Ayat 12)
15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka
terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(Al Baqarah - Ayat 15)
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
(Al Baqarah - Ayat 21)
39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami,
mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(Al Baqarah - Ayat 39)
45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu',
(Al Baqarah - Ayat 45)
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui
Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
(Al Baqarah - Ayat 46)
52. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu
bersyukur.
(Al Baqarah - Ayat 52)
77. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang
mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?