Waktu adalah makhluk yang perkasa. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia terus melaju. Karena waktu umur seseorang terus bertambah. Bahkan karena waktu pula jatah usia hidup dan produktivitas seseorang berkurang. Seiring perjalanan waktu manusia mengalami banyak babak dalam hidupnya. Dan karena waktu itu juga kita hampir meninggalkan tahun 2011 dan bersiap menyongsong kedatangan tahun 2012.


Setiap orang dewasa akan memasuki beberapa fase dalam hidupnya, di antaranya fase seseorang fokus untuk melakukan sesuatu (to do), fase seseorang fokus memenuhi dan mengumpulkan sesuatu (to have), dan fase mencari makna hidup ideal (to be). Akan sangat ideal bila seseorang dapat melewati beberapa fase tersebut secara sempurna. Tapi, biasanya tidak semua orang bisa melewatinya, sebagian besar terjebak dalam salah satu fase sehingga tidak mengalami fase lainnya sampai waktu mengalahkan dirinya (baca: meninggal).
Pada fase seseorang fokus melakukan sesuatu (to do), maka dia akan bekerja dengan sekuat tenaga, memeras keringat, membanting tulang, menghabiskan masa produktif tanpa memperhitungkan hasil jangka panjang. Yang ada di kepalanya melakukan sesuatu saat ini untuk memenuhi kebutuhan saat ini pula. Orang yang terjebak pada fase ini biasanya tidak akan mendapatkan hasil apa-apa hingga masa produktifnya berlalu.
Pada fase seseorang fokus mengumpulkan sesuatu (to have), maka dia hanya terjebak pada

obsesinya mengumpulkan sesuatu sebanyak-banyaknya. Baginya, semakin banyak mengumpulkan harta benda dan materi lainnya maka semakin terhormat. Memiliki materi sebanyak-banyaknya adalah simbol kehormatan. Karena itu tidak ada rasa puas dalam dirinya walaupun sudah berlimpah. Orang seperti ini akhirnya hidup hanya untuk mengumpulkan tapi tidak menikmatinya. Bila terjebak dalam fase ini orang cenderung egois, apatis, tidak punya jiwa sosial sampai waktu menghentikannya (baca: meninggal)
Pada fase seseorang fokus mencari makna hidup (to be), maka dia tidak hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk mengumpulkan sesuatu, tapi disertai rasa memaknai pencapaiannya. Pribadi semacam ini biasanya bekerja dengan penuh perhitungan, memiliki strategi yang baik sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Selanjutnya hasilnya dimaknai sebagai sebuah pencapaian yang tidak lepas dari keterlibatan orang lain sehingga dia mewujudkannya dengan rasa syukur dan lebih mengutamakan kemanfaatan bagi orang banyak. Orang yang memasuki fase ketiga ini adalah orang ideal yang memiliki produktivitas tinggi, rasa sosial yang baik dan cenderung dekat dengan spiritualitas.
Adakah sebuah profesi yang bisa membawa seseorang menjadi kombinasi ketiga fase itu? Sebagai sebuah pilihan, Anda layak mempertimbangkan profesi menjadi mitraniaga AHAD-NET. Pada

seorang mitraniaga AHAD-NET wajib memiliki produktivitas yang tinggi dengan melakukan ikhtiar yang optimal melalui upaya menjalankan sistem dengan sebaik-baiknya. Bekerja dengan sistem menggambarkan seseorang bekerja tidak dengan membabi-buta, melainkan bekerja cerdas, efektif, efisien dan penuh perhitungan. Bila semua itu berjalan dengan baik maka dengan sendirinya fase kedua yakni mencapai hasil dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyak akan terwujud. Selanjutnya dengan otomatis fase memaknai hidup (to be) akan dimiliki, karena dalam setiap langkah kerja dan semangatnya mitraniaga AHAD-NET mengutamakan kebersamaan, kepedulian, dan saling menyukseskan. Selain itu ditanamkan nilai-nilai spiritual bahwa setiap yang didapatkan bukan merupakan keberhasilan pribadi, melainkan dari kontribusi berbagai pihak dan rahmat dari Allah SWT. sehingga perlu bersyukur dalam wujud memberikan manfaat untuk orang banyak. Jadi yang dilakukan dan yang didapatkan hanyalah sebuah wasilah atau alat untuk mendapatkan tujuan hakiki yakni mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Jika di antara kita sudah menjadi mitraniaga dan menerapkan produktivitas untuk menggapai hasil maksimal dengan mengutamakan nilai-nilai sesuai syar”i, maka sesungguhnya ketiga fase (to do, to have dan to be) telah kita dapatkan. Insya Allah.
(HRM)