Salah satu misi AHAD-NET adalah meningkatkan kemandirian dan kemuliaan umat. Misi tersebut sangatlah tepat dan berkesesuaian. Karena tanpa adanya kemandirian, maka tidak akan tercipta sebuah kemuliaan.
Kemandirian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefiniskan sebagai hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Selain itu, kemandirian juga dapat berarti suatu kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
Salah satu sisi kemandirian yang dapat menciptakan kemuliaan adalah kemandirian dari sisi ekonomi. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam”. Namun apabila kita melihat kondisi Islam sekarang ini, seolah-olah sabda Rasulullah SAW itu tidak terbukti. Padahal kita ketahui bahwa salah satu sifat Rasulullah SAW adalah “shidiq” (jujur). Lalu mengapa Islam kondisinya seperti sekarang ini? Jawabannya adalah, karena ummat Islam sendiri yang membuat Islam dipandang seperti sekarang ini, dan salah satu yang menyebabkan hal tersebut karena ummat Islam tidak mempunyai kemandirian dari sisi ekonomi. Banyak fakta dan kondisi objektif yang memperlihatkan ketidakmandirian ummat di Indonesia. Dalam sebuah tulisannya, Dewan Pengawas Syariah AHAD-NET sekaligus Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Drs. Agustianto, M.Ag, menyebutkan:
Angka kemiskinan masih menggurita di Indonesia. Kalau digunakan indikator kemiskinan menurut ILO dimana perkapita di bawah 2 dolar sehari, maka angka kemiskinan di Indonesia mencapai 100 juta jiwa lebih. Bagaimana bisa dikatakan mandiri, kalau kemiskinan masih menggeluti umat.
Sumber daya alam Indonesia yang strategis umumnya dikuasai oleh asing.
Kebutuhan pangan bagi rakyat yang semakin tergantung dari import dengan tingkat ketergantungan yang semakin tinggi.
Lembaga produsen yang memproduksi kebutuhan umat, hampir semuanya dikuasai minhum (non umat), seperti kebutuhan sehari-hari sabun, shampoo, susu, pasta gigi dan hampir semua kebutuhan sehari-hari.
Jumlah pengusaha kecil dan mikro masih mendominasi di Indonesia, jumlahnya mencapai 40 jutaan. Misalnya, penjual bakso, nasi goreng keliling, penjual sayur, pedagang asongan, warteg sederhana, pedagang kaki lima (PKL), tukang parkir, dan lain-lain yang umumnya produktifitasnya rendah, sehingga pendapatannya pun rendah sekali.
Asset bank-bank syariah dan lembaga keuangan syariah masih kecil, selebihnya adalah didominasai lembaga keuangan konvensional.
Melihat fakta tersebut seharusnya patut membuat kita bersedih. Namun tentunya tidak hanya cukup dengan bersedih, tapi harus ada upaya nyata agar ummat dapat segera mandiri dari sisi ekonomi.
Untuk itu mari kita sama-sama terus meningkatkan usaha kita di AHAD-NET dengan cara menguatkan cita-cita yang diiringi dengan doa, perbanyak susun daftar nama, terus mengundang, perbanyak presentasi yang diiring dengan follow up, pakai juga produknya, dan tingkatkan kemampuan dengan cara membaca buku, dengarkan kaset dan mengikuti pelatihan. Semua itu kita lakukan bukan untuk kepentingan pribadi atau Perusahaan, namun agar misi yang telah dicanangkan dapat segera tercapai, salah satunya yaitu meningkatkan kemandirian dan kemuliaan ummat. Allahu Akbar.
(AM)
Diposting oleh nidzom Minggu, 18 Desember 2011 09:12:21 Rubrik : Ekonomi Syariah - dibaca : 130 Kali